Friday, March 6, 2009

Press coverage

Yogyakarta's cultural centrality means that events here - large and small alike - are often heavily covered by the mass media. Events that would go unmentioned in more peripheral areas - such as Cirebon - are fetted, critiqued and discussed in national newspapers and television.

I spoke to reporters from Metro TV and Koran Tempo covering the contemporary wayang show I did at Cemeti , and the multi-dalang PEPADI affair at the Rumas Dinas Walikota led to a number of newspaper articles about the performance - and one specifically about me, which I reprint here from the online version of the Yogyakarta newspaper Kedaulatan Rakyat. Not very flatteringto be referred to as a 'dalang bule' (bule is slang for albino, and is a joking way to refer to Caucasians) but this sort of casual racism goes unnoticed by most Indonesian readers. Most of the facts are correct - though of couse my daughter is named 'Hannah' not Anna.

Kedaulatan rakyat
http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=192346&actmenu=40
Home>>Panggung
Dalang Bule dari Inggris
23/02/2009 08:43:32 MENJADI dalang adalah profesi tidak asing di Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Bahkan profesi ini biasanya diwariskan dari keluarga atau turun temurun. Walaupun sekarang sudah banyak sekolah dan kursus dalang tapi tidak menyangka jika ada dalang bule. Dialah Dr Matthew Isaac Cohen dari Inggris. Senior Lecturer Drama & Theatre Royal Holloway University of London ini mengenal wayang sejak tahun 1988. Ia mendapat beasiswa di ASKI Solo yang sekarang menjadi ISI Solo untuk belajar dunia pewayangan. “Saya tertarik dengan wayang karena mengajarkan berbagai hal. Dalam sebuah pementasan wayang seorang dalang bisa menjadi narator, aktor, musisi dan pembawa cerita,” katanya ditemui sebelum pentas wayang Babad Wanamarta dalam rangka pelantikan pengurus Pepadi Komda Kota Yogyakarta, di Pendapa Rumah Dinas Walikota, belum lama ini. Ia juga tertarik cerita wayang yang diambilkan dari mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Meskipun di negaranya juga berkembang mitos namun tidak seperti di Jawa yang sampai sekarang masih lekat di hati masyarakat. Di Inggris mitos mudah punah. Ayah satu anak yang kini menetap di London juga sering pentas di negaranya. Tapi pentas wayang di Inggris tak sesering di Jawa karena di sana tidak ada hajatan. Ia biasa pentas di festival dan lembaga yang mengundang. Sedangkan durasinya tak selalu semalam suntuk tapi kadang diperpendek tergantung permintaan yang nanggap. “Cerita yang dibawakan semua lakon sesuai kemauan yang mengadakan, seperti Mahabarata juga Pandawa. Bahasanya tetap menggunakan Bahasa Inggris,” ungkap Matthew. Ilmu pewayangan yang diperolehnya tak hanya dari ISI Solo tetapi juga daerah Jawa Barat. Lama tinggal di Cirebon tak membuatnya kesulitan melakukan kolaborasi dengan 3 wayang, antara lain wayang kulit, wayang golek dan wayang kancil. Meskipun awalnya cukup sulit karena mencakup 3 keprakan namun dengan inovasi mudah dibawakan. Selama belajar mendalang di Solo tak hanya ilmu yang ia dapat tetapi juga keluarga. Istrinya orang Solo bernama Avivah kini mereka sudah dikarunia satu putri bernama Anna. Meski tinggal di London namun demi wayang ia siap bolak-balik ke Indonesia. (Nik)-c

No comments: